Kemana Kandidat yang Kalah?

Dipublish Pada Tanggal : 27 November 2013   dibaca : 111



Oleh: Mulyadi Muslim, MA

(Fungsionaris KNPI Padang)

 

Pasca ditetapkannya hasil Pilkada Padang putaran pertama 4 November lalu oleh KPU Padang, dengan perolehan suara yang disebut-sebut mengejutkan, para pengamat mulai ambil peran. Mereka membuat analisa dan kalkulasi dari sudut pandang dan pendekatan yang beragam. Ada juga yang hanya mereka-reka, apakah dukungan masih bulat seperti putaran pertama, atau pecah belah bagi partai koalisi.  

 

Tetapi, satu catatan analisa yang belum terbukti adalah, kemana para kandidat yang kalah pada putaran pertama memberikan dukungan untuk putaran kedua. Apakah kepada Mahyeldi-Emzalmi peraih suara terbanyak, atau kepada DeJe. Tentunya, hal ini akan terus bergerak, berubah dan menegangkan pada saat jadwal pencoblosan putaran kedua yang direncanakan 18 Desember 2013.

 

Kembali menilik, hasil suara yang didapat 30 Oktober lalu, Mahyeldi-Emzalmi (29,46 persen) menang dengan angka yang hanya sedikit lagi menyentuh 30 persen. Di tempat kedua, Desri Ayunda-James Helyward (19,11 persen), disusul Mohammad Ichlas el (Michel) Qudsi-Januardi (15,55 persen). Tiga besar ini, sekarang masih menunggu keputuan Mahkamah Konstitusi (MK), terkait gugatan pasangan Michel-Jadi.

 

Selanjutnya ada suara Maigus Nasir-Armalis (11,64 persen), Emma Yohanna-Wahyu Irama Putra (8,17 persen), Ibrahim- Nardi Gusman (4,74 persen), Kandris Asrin-Indra Dwipa (4,39 persen), Asnawi Bahar-Surya Budhi (4.03 persen), Syamsuar Syam-Mawardi Nur (1,43 persen), dan pasangan Indra Jaya-Yefri Hendri Darmi (1,43 persen).

 

Mengutip pernyataan Sekretaris DPD PDIP Sumbar Agus Susanto kepada Rakyat Merdeka Online, Minggu (17/11), ia mengatakan yakin menang, di putaran kedua. Pasangan Mahyeldi-Emzalmi akan 'dikeroyok'. Secara tersirat, kata Agus, delapan pasangan lainnya akan bersama-sama mendukung Deje nanti. "Semua sudah mendukung. Secara tersirat sudah, namun tersuratnya belum. Kita sedang koordinasi dan konsolidasi," sebut Agus.

 

Tetapi, sudah satu pekan berlalu, ternyata para kandidat yang kalah seolah hilang ditelan bumi. Sehingga, berita di media masa atau di dunia maya terasa sepi dan hambar dalam pertarungan babak kedua Pilkada Padang ini. Terakhir, hanya pasangan Maigus-Armalis (MARS) yang masih malu-malu untuk menyatakan dukungan kepada pasangan DeJe. Karena, deklarasi hanya “diselipkan” dalam kegiatan peringatan Tahun Baru Islam, akhir pekan ini.

 

Belum adanya pernyataaan kandidat tertentu akan mendukung kandidat yang bertarung, maka sedikit banyaknya menjadi tanda tanya bagi masyarakat dan pengamat. Ada apa dengan mereka? Apakah memang tidak  ada keinginan dari yang kalah untuk membangun Kota Padang bersama-sama? Sehingga, gara-gara kalah di putaran pertama langsung patah hati, kecewa dan menghilangkan diri.

 

Jika ini yang terjadi, maka memang begitu belum dewasanya para kandidat. Menggunakan istilah Bang Fakhrul Rasyid– jurnalis senior, inilah janji-janji politik, yang papek di luar tajam di dalam. Katanya ingin membangun Padang, memajukan dan menyejahtrekan masyarakat, tetapi karena kalah, langsung hilang dari kancah perpolitikan.

 

Padahal kalau ingin membangun Padang lewat jalur lain, tentu perlu bahu-membahu memenangkan salah satu kandidat. Tetapi ini nampaknya yang belum terjadi dan bisa jadi tidak terjadi. Kenapa penulis mengasumsikan bisa jadi tidak akan terjadi deklarasi dukungan para kandidat yang kalah kepada Deje dan Mahyeldi-Emzalmi?

 

Berikut ini adalah dua analisa utamanya. Pertama, besarnya biaya atau ongkos politik Pilkada putaran pertama barangakali telah menyisakan utang bagi kandidat yang kalah. Bisa jadi, negosiasi kerja sama, dukungan dan deklarasi dari kandidat yang kalah kepada salah satu kandidat yang masuk pada putaran kedua terkendala dalam hal ini. Mereka masih sibuk mencari cara membayar utang.

 

Di saat pasangan yang masuk pada putaran kedua membutuhkan dana segar, semenatara kandidat yang kalah memikirkan pelunasan utang atau cost putaran pertama. Maka di sini barangkali terhambatnya negosiasi. Sebagaimana sering diulas oleh para pengamat, bahwa tidak ada “makan siang” yang gratis dalam masalah politik. Maka dengan demikian pernyataan Agus Susanto akan jadi hampa dan tidak terbukti.

 

Kedua, bisa jadi kandidat yang masuk pada putaran kedua sudah merasa percaya diri dengan dukungan suaranya masing-masing. Kandidat dengan timnya mungkin sudah mengalkulasikan bahwa pemilih kandidat A akan beralih ke kandidatnya, pemilih kandidat B akan beralih ke kompetitornya atau sebaliknya. Maka dengan demikian bisa jadi kandidat yang masuk pada putaran kedua ini sudah sejak dari awal meninggalkan para kandidat yang kalah.

 

Tak bisa pula diduga, bahwa ada kabar negosiasi, perundingan dan kesepakatan sedang dibahas, bisa jadi itu hanya sekadar obrolan lepas para kandidat dan timnya. Tujuannya, untuk memanas-manasi suasana, syukur-syukur kalau ada keuntungan yang dapat dipetik. Apalagi kalau bisa membantu mengansur utang yang tumbuh subur.

 

Dan jika ini yang terjadi, maka bisa jadi kandidat yang kalah akan gigit jari untuk kedua kalinya. Pertama, karena kalah pada putaran pertama. Kedua karena diperdaya oleh kandidat yang masuk pada putaran kedua. IbaraTnya, sudah jatuh tertimpa tangga pula.

 

Untuk analisa ini, disarankan supaya tidak takicuah di nan tarang ada baiknya kandidat yang kalah tidak mengedepankan utang. Tetapi buatlah komitmen yang mungkin untuk disepakati dalam membangun Kota Padang. Dahulukan kepentingan orang banyak, maka dengan demikian semoga utang-utang sedikit banyaknya bisa dilunasi.

 

Adapun kandidat yang masuk pada putaran kedua, idealnya juga jangan terlampau percaya diri dengan hitung-hitungan atau kalkulasi suara dukungan. Sebab, jika percaya diri yang berlebih, bisa jadi yang muncul adalah kesombogan. Adanya dukungan- dukungan tambahan dari komunitas, tokoh atau relawan kandidat yang kalah pada putaran pertama bisa jadi itu hanya fatomargana.

 

Jika mereka yakin dengan kandidat yang masuk pada putaran kedua ini, kenapa tidak sejak dari awal mereka memberikan dukungan? Perlu diwaspadai, jangan-jangan mereka juga para pemain dalam perpolitikan tingkat bawah, tetapi bisa membuat kandidat dan timnya lengah.

 

Sehingga, jika kandidat yang kalah pada putaran pertama takicuah di nan tarang oleh kandidat yang masuk pada putaran kedua, maka kandidat yang masuk pada putaran kedua juga bisa takicuah di nan tarang sabana tarang oleh tokoh yang merapat, mendukung pada putaran kedua saja. Ataupun relawan yang muncul secara tiba-tiba dan mendeklarasikan dukungannya, tetapi ternyata yang dicarinya adalah biaya “makan siang”.

 

Semoga tidak ada yang takicuah di nan tarang, maka silakan turun ke masyarakat, berikan mereka harapan dan keyakinan bahwa Kota Padang bisa berubah ke arah yang lebih baik dengan memilih pemimpin yang sesuai dengan harapan mereka. Semoga. (*)

 

 

 



Artikel Lainnya :
  • 100 Sopir Trans Padang Diberi Pembekalan
  • Padang Raih Penghargaan Kota Sehat Tahun 2013
  • 1.669 Anak Padang Putus Sekolah, Baru Tertampung 250 Orang di Lima Sekolah
  • PIDATO PENYAMPAIAN VISI DAN MISI CALON WALIKOTA PADANG 2014-2019 PASANGAN MAHYELDI –EMZALMI
  • Mahyeldi Ambil Cuti Kampanye 13-26 Oktober 2013

  • 0 Komentar :



    Tambahkan Komentar :
    Nama
    Website
    Komentar
    Kode Keamanan